Kamis, 01 Desember 2011

Pesan Terakhir dari Mamah



     Hari ini genap seratus hari mamah meninggal. Papah mengadakan acara tahlilan untuk hari keseratus mamah telah tiada. Rumah ini penuh suara merdu orang-orang membacakan Yasin dan doa untuk mamah. Rumah ini ramai. Tapi tak berarti tanpa mamah. Semuanya berlangsung cepat , aku tak percaya di umurku yang ke 17 tahun sudah harus ku lalui hari terberatku tanpa mamah. TANPA MAMAH . Cuma bersama papah.
     Aku cuma bisa duduk di atas tempat tidurku. Di sini aku menangis. Masih tak terima dengan kepergian mamah seratus hari yang lalu. Tak sedikitpun aku ingin untuk bergabung dengan para tetangga dan keluraga ku yang membacakan untaian doa untuk mamah. Terlalu SAKIT menyadari aku menjadi anak piatu. Aku tidak terima ! Aku masih perlu mamah!.
      Tiga bulan yang lalu mamah masih disini , bersamaku , menasehatiku , tertawa dan menangis bersama ku. Namun sekarang aku di sini sendiri. Pikiranku kembali melayang ke waktu sebelum mamah tiada. Dia menggenggam tanganku , memeluk tubuhku dan mencium pipiku. Dia berkata akulah anak perempuan termanis yang dia miliki. Akulah malaikat hatinya. Akulah yang slama di kandungnya yang slalu di lantunkannya lagu-lagu yang penuh cinta Akulah segalanya. Aku adalah orang terakhir yang ingin di lihatnya.
      Penyakit kanker darah yang di derita mamah sudah mulai parah sejak 4 bulan lalu. Aku takut mamah meninggalkanku. Dan hal itulah yang pada akhirnya terjadi.

***
     Hari ini aku kembali membaca untaian kata dari diary ku. Pesan terakhir mamah untuk ku yang sengaja ku catat." Mamah sayang kamu la , mamah ingin kamu sekolah yang pintar biar bisa jadi dokter. Mamah ingin kamu bisa menyelamatkan orang yang sakit sperti mamah. Agar tak semakin banyak orang yang kehilangan nyawa dan orang terkasihnya ."
     Dan disinilah aku akhirnya. Di salah satu universitas kedokteran ternama di kotaku berkat pesan terakhir mamah.

***
     Seperti biasa , sambil menunggu mata kuliah selanjutnya aku duduk di kursi sebuah taman yang berseberangan dengan kampusku. Memandangi kampus Mulawarman. Kampus yang sejak SMP sudah mulai menarik minatku untu sekolah di sana. Namun bukan jurusan kedokteran ini yang ku inginkan. Aku cuma ingin kuliah di fakultas tekhnik dan menjadi seorang insiyur. Namun kepergian mamah merubah mimpiku. Sekarang aku seorang mahasiswi semester 3 fakultas kedokteran dengan segala macam tugas dan pelajaran tentang hidup dan manusia yang ku pelajari.
Ku arahkan pandanganku ke sekeliling taman ini. Banyak mahasiswa yang menghabiskan waktu disini sambil menunggu jam kuliah. Dan di sudut taman ini aku melihat lagi lelaki itu. Lelaki yang ku jumpai tak sengaja saat menangis teringat kepergian mamah di taman ini. Waktu itu dia terlihat bingung melihatku yang sesegukan menangis. Kemudian dia menyodorkan selembar tissue dan sebotol air mineral. Ia beralasan tak pernah tega melihat perempuan menangis. Aku tak ingin tau lebih banyak mengapa ia tidak tega. Yang kupikirka saat itu adalah apakah waku bisa ku putar ulang untuk mengembalikan mamah. Bahkan menanyakan namanya saja dan berterimakasih pun aku tak sempat akibat terlalu terpuruk dalam tangisan.. Namun hari ini aku menjumpainya lagi di taman ini. Aku harus berterimakasih dengan lelaki itu sekarang !
"Hai" sapaku pada lelaki itu.
Ia menoleh kearahku dan mengamatiku.
"Aku Lala , kita pernah bertemu sebelumnya di taman ini " kataku sambil menodorkan tangan mencoba memperkenalkan diri.
Ia terlihat bingung , namun kemudian tersenyum dan membalas tangan ku.
"Aku Dimas. Aku hampir saja tak mengenalimu. Mata mu tak sembab dan berlinang air mata saat pertama kalli kita bertemu." ejeknya.
Aku tersipu malu. Dia masih mengingatku. Yaiyalah , bagaimana ia tidak mengingat seorang gadis duduk di bangku taman sambil menangis seperti anak kecil yang minta dibelikan permen. Hal yang memalukan ! Namun aku senang bisa berjumpa dengannya lagi.
"Maafkan aku yang tak sempat berterimakasih denganmu waktu itu. Aku terlalu terbawa emosi. Aku sedang teringat ibuku. .". Aku tak melanjutkan kata-kataku. Sadar apabila aku kembali ingat itu air mata ini akan mulai bereaksi lagi. Dimas tersenyum. Ku rasa ia mengerti apa isi pikiranku.
"Ya tak apa La , aku senang membantumu. Aku tak akan pernah tega meliat wanita menangis". Jawab Dimas seraya tersenyum.aku tak pernah tau apa arti senyuman itu. Apakah ia benar-benar tau apa yang ada dipikiranku sekarang.

***
     Hari ini aku tidak ada mata kuliah , jadi ku putuskan untuk jalan-jalan mengelilingi kota tercinta ku. Aku ingat pesan almarhumah mamah "Sebaik-baiknya kampung orang , kampung kelahiran kitalah yang paling bisa membuat kita nyaman". Apa yang dikatakan mamah itu benar sekali. Biar bagaimanapun sulitnya hidup yang ku lalui selama aku masih di sini bersama orang-orang terdekatku tak akan terasa sangat sakit.
Aku memutuskan untuk menikmati pagi ini dengan duduk di taman tempatku biasa beradu khayalan ku tentang masa depan ku kelak yang masih di iringi senyuman bangga mamah. Aaaah sudahlah , sekarang itu cuma kenangan dan bukan lagi impian !. Mata ku beradu pandang ke sekeliling. Mencoba melihat beragam tingkah laku manusia di taman ini. Sungguh aneh , taman ini tak pernah sepi sekalipun. Aku terlampau sering ke taman ini. Aman ini ku tempatkan sebagai rumah kedua ku. Tempat keluh kesahku.
"Dooooorr!" Nadia , sahabat dekatku mengejutkan ku. Aku terlonjak dan berteriak karena kaget yang mendera. "Aiish kamu Nad! Ngagetin orang aja. Untung aku ga ada tanda-tanda penyakit jantug dan ephilepshi" , oceh ku pada Nadia. Nadia nyengir. Dia adalah temanku sejak kecil. Mamah dan orang ta Nadia adalah teman dekat. Tak salh jika kami berdua pun menjadi sangat akrab.
"Eh la . Minggu ini ada kegiatan buat Mapala loh! Mendaki puncak gunung. Kita ikut yuk itung-itung uat nambah pengalaman" , ajak Nadia. Aku pura-pura berpikir layanya seorang direktur yang diminta persetujuan kontrak. Nadia cemberut , pertanda ia tak sabar meunggu jawabku. Aku tak tega juga melihat wajahnya yang tertekuk itu. "iyaaa nadia sayang , kita ikut kok" , jawabku singkat. Namun bagi Naidia itu pastilah jawaban yang spektakuler dan dia tersenyum senang.
***
     Hari ini seperti janjiku pada Nadia , kami akan mengikuti pendakian guung bersama anggota mapala lainnya. Nadia begitu semangat , namun lain halnya denganku. Berat meninggalka papah yang udah tua tanpa mamah walaupun untuk beberapa hari. "Pah , Lala minta ijin sama papah yah buat mendaki gunung sama anggota Mapala..". Ijinku pada papah. Papah berdeham sebentar kemudian mengangguk sambil berkata , "mamah kamu juga suka mendaki gunung saat masih kuliah dulu , sepertinya kamu yang akan mewarisi hoby mamah itu". Kata papah sambil tersenyum. Aku kembali teringat mamah. Rasanya air mata ini ingin menetes namun ku tahan. Tak ingin papah menjadi sedih melihatnya. Aku sayang papah. Aku kasian melihat papah sendiri tanpa seorang istri , tapi ku tau cinta papah teramat besar untuk mamah. Ku tau tak seorangpun berhak menggantikannya dihati papah. Betapa beruntungnya mamah memiliki papah yang tetap menjaga mamah dihatinya walaupun raga mamah tak lagi disini. Aku beharap mempunyai jodoh kelak yang seperti papah. . .
***
Perdakian ini menguras tenagaku. Belum lagi hati dan pikiranku yang tertuju pada papah disana. *Bruuuk* ku tabrak seseorang yang berjalan didepanku. Aku tergagap. Tersadar bahwa dari tadi aku melamun. Orang itu mengerang namun segera menatapku setelah sadar gadis yang ditemuinya menangis ditamanlah yang kini menabraknya. Dia tertawa renyah. "Kamu lagi ya? Ku rasa kita berjodoh. Kita selalu bertemu disaat yang tak tepat. Kemarin kau menangis ditaman dan sekarang menabrakku" candanya. Aku tetsenyum tidak enak. Selalu mempermalukan diriku dihadapan orang ini.  Aku ingat pemuda ini , Dimas namanya. Aku menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. "ah sudahlah tak apa , aku hanya bercanda tadi. Jangan melamun lagi ya" katanya kepadaku. Aku meringis. "maf maaf , aku gak sengaja. Lain kali aku janji kau akan bertemu aku dengan kesan yang baik" kataku malu-malu. "ah biasa aja la , lucu kok kalo ketemunya kayak gini. Oiya kamu ikut mapala juga ya ternyata?" tanya dimas padaku yang masih salah tingkah. "I Iyaa , kamu juga ya? Kebetulan banget ya kita bisa bertemu lagi" kata ku mulai bsa mengendalikan diri.
***
     Sejak kejadian itu aku dan Dimas mulai akrab. Dia orang yang baik. Aku mulai melupakan kesedihanku tentang mamah. Mamah takakan pernah kembali sekeras apapun aku menangisinya , aku akan buktikan aku bisa menjadi kebanggaan mamah walaupun mamah tak lagi menemani kami disini.












































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar